Tema Utama Simposium
Sesuai dengan semangat ASCC di dalam konteks pasar bebas ASEAN plus, suatu kerangka kerjasama bidang kesejahteraan sosial kini menjadi kebutuhan. Oleh sebab itu, tema umum yang ingin dipilih sebagai payung konferensi ilmiah ini adalah: “Institutional Cooperation for ASEAN Community in Social Welfare and Social/Human Development: The Way Forward”
- Social investment in ASEAN: Towards A Sustainable and Equitable Development in the Region
- Needs, Differences and Policy Alignment for Future Cooperation in Welfare, Protection and Social Development
- Institutional Development, Multistakeholder Communication and Indicators of Progress
- The Media, Content Development and Social Awareness for Social Development in ASEAN.
Sub-sub Tema Konferensi
1. Kelanjut-usiaan
Berkembangnya kelompok masyarakat manula adalah sebuah gejala yang terkait dengan meningkatnya harapan hidup dan merupakan konsekuensi dari berubahnya komposisi kependudukan dari sebuh Negara. Warga manula bukanlah beban namun sebuah aset sosial yang terus dapat memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Diskusi mencakup penajaman kebijakan untuk membangun sistem layanan publik dan pengalaman tentang pendekatan terbaik untuk membangun sinerji lintas pelaku dalam sistem layanan bagi para pemula. Pandangan dan diskusi diharapkan datang dari para pembuat kebijakan, anggota parlemen, peneliti dan pengelola layanan bagi manula.
2. Penanggulangan Bencana
Kerjasama masyarakat ASEAN dalam bidang penanggulangan bencana alam dan kebencanaan kemanusiaan diatur dalam kerangka kerjasama masyarakat international. Ketentuan-ketentuan pokok ini perlu disosialisasikan lebih luas untuk mendukung kecepatan respon dan kemampuan mobilisasi bantuan yang diperlukan. Dalam konteks masyarakat ASEAN, perlu dikembangkan pemetaan pelaku untuk membangun kapasitas respons, khususnya terhadap bencana alam yang kerap terjadi di kawasan ASEAN. Lebih jauh, terkait pengembangan kapasitas kelembagaan mitigasi dan pencegahan bencana, perlu dibahas tentang sistem pengembangan sumber daya manusia dan bagaimana jaringan kerjasama kelembagaan dapat didorong untuk membangun sumber daya manusia yang diperlukan.
3. Perlindungan Pekerja Migran
Dalam konteks perkembangan ekonomi kawasan, peran pekerja migran sangatlah besar. Topangan pekerja migran bagi perekonomian di berbagai sektor sangatlah menentukan, misalnya untuk perkebunan, konstruksi dan pekerja domestik. Namun, keberadaan pekerja migran tidak hanya berada pada segmen keterampilan rendah (low-skilled) namun juga berkembang pada segmen tenaga kerja berketerampilan tinggi (high-skilled). Peluang bagi pekerja berketerampilan tinggi juga akan menjadi topik yang akan berkembang dalam ASEAN, khususnya setelah pemberlakuan mobilitas yang lebih luas mulai 2015.
Hubungan antar Negara ASEAN ke depan tidak dapat mengabaikan isu mobilitas pekerja migran, perlindungan dan pengembangan aspek kualifikasi pekerja. Konferensi ini berharap dapat mengangkat isu-isu tentang gagasan pemberdayaan, perlindungan dan perencanaan ekonomi di Negara-negara ASEAN.
4. Kesejahteraan Anak
Ide dasar dari pemikiran kesejahteraan adalah melihat anak sebagai generasi yang diharapkan menjadi penerus bangsa. Konsepsi mengenai hak anak sangatlah mendasar untuk terus diterjemahkan dalam berbagai konteks kebijakan publik. Kualitas generasi penerus (khususnya anak) penting terkait pengembangan identitas, kualitas dan potensi kemajuan bangsa. Lebih jauh, kesadaran akan investasi sosial dapat menjadi salah satu acuan dan dorongan bagi Negara-negara ASEAN untuk memberikan perhatian lebih bagi pengembangan dan perlindungan anak. Dalam konteks ASEAN, masalah anak menjadi penting dalam konteks kebijakan perlindungan, identitas masyarakat ASEAN, perlindungan dan pengembangan peran keluarga dalam menjalankan sosialisasi dan pemenuhan kebutuhan anak.
5. Pendidikan dan Profesi Pekerjaan Sosial
Pendidikan pekerjaan sosial menjadi elemen penting dalam membangun proses bantuan yang efektif dan akuntabel dalam masyarakat. Para akademia berperan penting membangun kebijakan dan ikut mengembangkan berbagai metode pengkajian yang secara efektif dapat membangun kebijakan yang efektif. Pusat-pusat riset dan institusi ‘think tank’ diharapkan dapat menampilkan hasil-hasil dan model-model pengkajian yang mempunyai relevansi terhadap pengembangan dan evaluasi kebijakan publik, kegiatan CSR dan proses yang terjadi di dalam berbagai forum pengembangan program pemberdayaan masyarakat, perlindungan dan bantuan sosial.
6. Tanggungjawab Sosial Dunia Usaha
Tanggung jawab sosial dunia usaha telah lama menjadi pilar bagi keberlanjutan usaha. Saat ini dunia usaha memegang peran yang semakin menentukan dan mempunyai potensi yang sangat luas bagi pengembangan aspek-aspek di luar bisnis. Prinsip-prinsip peran serta dunia usaha dengan acuan citizenship roles menjadi landasan bagi kontribusi yang semakin luas.
Diskusi dalam sesi ini akan mengangkat berbagai peranan dunia usaha menjalankan komitmen membangun masyarakat dalam rangka kesinambungan usaha dan kesejahteraan masyarakat.
7. Disabilitas
Masyarakat disabled (PwD) di setiap Negara ASEAN tumbuh sebagai bagian dari masyarakat lainnya. Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar diharapkan berjalan seiring dan dinikmati oleh masyarakat disabled. Suasana yang senantiasa memberikan dukungan dari masyarakat adalah hal mendasar yang dibutuhkan penyandang disabilitas. Akan dibahas sejauh mana Negara-negara di ASEAN membangun komitmen, mencapai kemajuan dan membangun perundang-undangan dan pemberitaan media terhadap isu disabilitas. Pembahasan lain yang penting adalah prospek kerjasama lintas Negara dalam membangun kesadaran masyarakat akan kebutuhan masyarakat disabled dalam pengembangan perannya di masyarakat.
Abstrak
Strengthening Policies and Multi-stakeholder Cooperation in Welfare and Social/Human DevelopmentThe International Conference on Social Welfare in the ASEAN Region is the first attempt of facilitating exchange of experience and knowledge among social work practitioners, social work educators, social policy scholars, students, government officials and decision makers to explore common challenges and potential collaboration and partnership in promoting social welfare in the ASEAN region. In addition to ten ASEAN member countries, this conference will also include speakers from non-ASEAN countries, such as from Japan, South Korea, Australia, India and the United States. There will be 7 (seven) sub theme outlined offered in this conference. These include Aging, Disaster Management and Social Reconstruction, Welfare of Migrant Workers, Child Welfare, Disabilities, Social Work Education and Profession, and Corporate Social Responsibility. In the context of ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC), and parallel to the conference, the Indonesian Ministry of Social Affairs will also organize ASEAN Social Services Expo and study visits to several social services agencies and schools of social work. The conference will be held from October 27–30 at the Sultan Hotel, Jakarta and October 31 – November 1, 2011, Bali.